Jumat, 21 Januari 2011

TOK LAUT dalam LEGEND'S TANJUNGBALAI





EPISODE . 1

TRAGEDI CINTA TUALANG & RASO

Tualang adalah seorang anak Raja dari Negri antah berantah yang turun keserambi Tanah Paduka ( saat itu belum disebut Tanjungbalai ) dengan menyamar sebagai gembel.

Raso adalah putri cukup cantik dari anak Raja Menong yang bermukim disebuah ibukota kerajaan dipinggiran pantai ( saat itu belum disebut Keramat Kubah )

Meski Tualang menyamar sebagai gembel tetapi perawakan tampan tetap terpancar dari wajahnya, sehingga membuat Putri Raso jatuh hati padanya
( Terjadilah jalinan asmara antara Tualang dan Raso )

Merasa memiliki darah bangsawan, maka Raja Menong keberatan putrinya menjalin asmara dengan si Tualang yang gembel/cinta mereka tidak mendapat restu dari pihak keluarga kerajaan.

Hinaan dan cercaan terhadap Tualang meningkat menjadi kebencian yang tiada tara, akhirnya Raja Menong memerintahkan para hulubalang untuk menangkap dan membunuh Tualang

Cinta Putri Raso yang begitu tulus membuatnya lupa diri sehingga demi pengabdian cinta itu Putri Raso siap menanggung resiko sebesar apapun meski nyawa sebagai taruhannya
Hal itu membuat Raja Menong kehilangan martabat dimata rakyatnya dan akhirnya Raja Menong menitahkan agar keduanya ditangkap dan harus diadili dengan tuduhan menghina martabat Kerajaan

Begitu para hulubalang mengadakan pengejaran yang akhirnya membuat keduanya terdesak ….sehingga pada batu terjal diatas tebing pinggiran pantai keduanya sepakat mati bersama dengan melompat kearus deras sungai, namun takdir berjalan lain…kematian bersama yang diharapkan menjelma menjadi kutukan ( Si Tualang berobah nenjadi Pohon sedangkan si Raso berobah menjadi seekor ikan belang kuning hitam.)
Para hulubalang menghadap Raja Menong dan melaporkan kejadian yang mereka saksikan
Penyesalan memang selalu datang terlambat…Raja Menong meratapi dirinya beribu penyesalan membekam didada bagai lahar yang keluar dari gunung jiwa dan akhirnya…Raja Menong mengangkat sumpahnya
“ Setiap yang datang kemuara sungai ini untuk menceburkan dirinya pada alur sungaiku yang bukan keturunan dari anak cucuku, maka binasalah dia….matilah dia….dan tak akan kulepas jasadnya yang sudah mati itu sebelum menyeru /memohon hamba kepadaku “

Setelah menobatkan sumpahnya maka Raja Menong terjung kearus sungai itu dan menjelmalah Ia menjadi sane/hantu sane.
( Konon itulah sebabnya …siapa saja orang-orang yang mandi di sungai itu yang bukan anak cucunya maka binasalah mereka ditelan hantu sane…)

Dan ikan jemaan Putri Raso tidak mau berenang ketengah sungai, Ia tetap berenang dekat pohon jelmaan Tualang dan ikan jelmaan Putri Raso enggan berenang ketengah sungai disebabkan takut dengan hantu sane jelmaan ayahnya Raja Menong yang tak merestui cinta mereka
Ibu Putri Raso memendam rasa sedih yang cukup menyakitkan… beliau kehilangan orang-orang yang dicintai, akhirnya dengan merasa pasrah sambil membawa penderitaan batin yang terasa terkoyak koyak maka beliau menghadap Sang Mertua ( Ayah dari Raja Menong yaitu Panglima Hitam yang terkenal sakti itu). Ia memohon kepada Panglima Hitam agar dia bisa selalu dekat dengan orang yang dicintai….meski apapun sumpah dan resikonya beliau siap menerimanya…..
Panglima Hitam adalah Raja Bunian yang menguasai perairan serambi tanah
paduka …yang dalam dunia sufy parakomunitas bayan/bunian mereka menyebutnya “ Syech Datuk Laut “
Panglima Hitam merasa kasihan melihat menantunya dan Ia pun mengabulkan permintaan itu….

Ketika acara sakral itu mau digelar…tiba-tiba terdengarlah suara dari kejauhan yang merintih sedih sambil bersenandung ela-ela….suara itu menyentakkan Sang Datuk dan Ibu Putri Raso…….karna suara itu adalah suara Putri Raso……..
ela-ela-ela….hoi……..kenapa nasibku jadi bagini….
hoi…….ela-ela …..hei…….
hoi…….orang dunio……datuk panglimo ……
hoi………..nasib siraso…menanggung raso……..
ela-ela…..hei….Datuk Panglimo…….
hoi……...
jangan tangisi nasib anakmu….
cucumu yang malang ini oi….datukku……..

Sarat manjampi kapalo suku…..
Keris bertahta emas permato….
Kolo Datok dan omak sayang padaku….
Jadilah suluh cinta kami baduo…..
Mendengar suara sinandong ela-ela itu….sambil meneteskan air mata
Panglima Hitam menyumpah si menantu ( Ibu dari Putri Raso )menjadi kunang-kunang….agar Ia dapat meyuluh cinta antara Tualang dan Raso.
( Itulah sebabnya kunang-kunang tak mau hinggap dipohon kayu yang lain dan Ia tetap hinggap diatas pohon Tualang sebab agar selalu ia dapat melihat anaknya tercinta yaitu siputri Raso yang menjelma menjadi ikan belang kuning hitam )
Inilah legenda asal usul Kecamatan Sei Tualang Raso dan Keramat Kubah adalah Mesjid komunitas para bayan/bunian yang paling besar di wilayah Sumatera ( yang kadang-kadang bisa terlihat oleh orang biasa ) . Konon mesjid inilah tempat Syech Datuk Laut bersama santrinya / meski Syech Datuk Laut adalah komunitas bayan tetapi santrinya juga banyak manusia biasa.




EPISODE 2
DIDONG SITI UNAI

Tualang adalah saudara sebapak dengan siti unai, namun Ibu dari Siti Unai adalah orang biasa sedangkan Ibu dari Tualang adalah seorang putrid bayan ( meski satu bapak lain ibu namun kedua adik beradik ini cukup akrab dan saling curhat ). Problema yang terjadi dalam singgasana kerajaan antara putri bayan ( Istri kedua Sang Raja/Ibu dari Tualang ) dengan Tuan Putri
( Istri pertama sang Raja/ Ibu dari Siti unai ) sering terjadi selang sengketa namun kedua adik beradik ini tetap menyatu dalam ikatan persaudaraan yang tulus. Kadang-kadang masing-masing ibu memarahi anaknya agar tidak terlalu dekat tetapi hal itu tak mampu membuat hubungan adik-beradik ini berobah.
Siti Unai diboyong oleh Sultan Aceh keserambi tanah paduka /bale diujung Tanjung, maka rasa kasihan Si Tualang terhadap kakaknya membuat ia meninggalkan istana. Karna Tualanglah yang tahu siapa sebenarnya cinta sejati kakaknya Siti Unai. Kawin paksa yang dilakukan Sang Raja terhadap Siti Unai membuat hati kedua kakak beradik ini terasa terkoyak-koyak. Tangisan serta deraian air mata menghiasi hari-hari Siti Unai. Karna dalam jiwa Tualang ada darah bayan/bunian maka Tualang dapat beradaptasi didua dimensi kehidupan ( Kadang Ia kasad mata/Kadang ia realita ). Tualang terus menemani Siti Unai ….meskipun hal itu tidak diketahui Sultan Aceh…..Jika Siti Unai sedih maka Tualanglah yang menghibur…..Hari-hari berlalu….Tualang semakin dewasa dan kalau hari siang Si Tualang terus menelusuru bibir pantai Tanah paduka dan beradaptasi dengan komunitasnya para bayan/bunian yang ada didaerah itu. Maka ketemulah Tualang dengan Putri cukup cantik dari anak seorang Raja yaitu Raso……
Takdir cinta berkata lain, hajad hati menjaga dan menghibur sang kakak tersayang berobah menjadi pergulatan hidup yang menyakitkan…..Tualang telah dikutuk menjadi pohon…..kekhawatiran sang kakak yang menunggu sang adik tak kunjung datang membuat kehamilan yang sedang dikandung Siti Unai terasa terabaikan …..begitu juga sebaliknya….Tualang tak bisa lagi menjenguk sang kakak……usahkan menjeguk …mengkhabarka
kondisinya yang sudah dikutuk sebagai pohonpun ia tak mampu
Saat inilah lahir syair dari bibir Siti Unai…..yaitu didong….ia bersenandung
sambil memelas perutnya dengan tangan dan pikiranya tetap terpatri keadik
tersayangnya Tualang……
Ditengah kesedihan yang berkecamuk dalam hati yang nista , disaat itu pulalah Siti Unai harus diserahkan ke Sibayak Lingga untuk dijadikan istrinya……

Air mata…..duka lara….terasa mengoyak dan mencabik hati Siti Unai……..kepahitan rasa rindu berkecamuk dalam lahar gunung jiwa….dan disaat itupulalah Sang Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah lahir………

Tumpahnya lahar gunung jiwa mewarnai kelahiran sultan kita……




EPISODE 3
PRAHARA ASMARA SITI UNAI

Seperti pangeran dari kayangan …begitulah sebutan yang pas untuk Si Asahan ( Pria tampan/berbudi pekerti yang tinggi/cerdas /taat beragama serta punya kewibawaan yang tak tercela ) namun beliau bukan anak seorang Raja dan sudah tentu bukan lahir dari lingkungan bangsawan.

Kisah cinta antara Siti Unai Putri Sang Raja dengan Si Asahan mewarnai kehidupan indah kedua insan ini, namun itu tidak berjalan langgeng……meski ukiran cinta yang mereka pajang didalam hati sanubari mereka berdua, tetapi buah kasih sayang itu tak diberi takdir untuk mereka nikmati……Siti Unai terpaksa mengikuti aturan kerajaan……terlalu naïf kalau kawin paksa yang kita lontarkan untuk sebutan kala itu, tetapi itulah adanya…
Ketika Siti Unai menjalani kehidupan bersama Sang Sultan Aceh dan bermukim diujung tanjung serambi tanah paduka….Sang Sultan bertanya kepada Siti Unai….. “ Apa nama tempat kerajaan ini kita buat hai…Siti Unai….. ? , Siti Unai menjawab “ Asahan ya…Sultan……………………………
(Padahal ketika Sang Sultan bertanya….pikiran Siti Unai sedang menerawang kepada Si Asahan kekasih tercintanya), ketika Sang Sultan bertanya kembali….” Apa makna Asahan itu ya…Siti Unai……( Si Siti Unai baru sadar dan tersentak……..dan menjawab sambil berpikir-pikir……..)…..Ee…..Asa artinya perasaan sedangkan Han adalah pelantaran…..jadi kalau disatukan artinya Rumah yang kaya dengan ribuan perasaan senang……dan Pusat Kerajaan inikan berada diujung tanjung dan kita saat ini kan berada dibai-balai….jadi kita nobatkan saja daerah pusat kerajaan ini Tanjungbalai…….Mendengar itu Sang Sultan manggut-manggut…….(Dalam hati Siti Unai…terasa jantungnya deg-deg an sebab seandainya Sang sultan tahu bahwa pikiranku ke jejaka lain betapa tidak beradatnya aku sebagai Istri Sultan yang harus kujunjung tinggi……..)
Disisi lain terjadi petualangan Si Asahan menelusuri hulu sampai hilir sungai dan akhirnya sampailah ia suatu daerah ( Pada saat itu belum disebut sei kepayang) Namun karna Si Asahan dalam melampiaskan rindunya Ia bernyanyi sambil berkeluh kesah / dari sinilah awalnya sinandong) dan begitu sadar dari khayalannya….Ia memandangi seluruh arah pandang tempat itu….akhirnya ia berguman sendiri dan mengatakan….Saya beri daerah ini namanya Sei Kepayang sebab ketika sampai ditempat ini perasaanku semakin lain….aku hayut dibuai rasa rindu…….oh…….aku rupanya sedang mabuk kepayang dipinggir sungai…….………

Berbekalkan rakit ia menyebrangi anak sungai , dan ketika sampai dipinggir pantai …..Ia mau mendirikan tempat perteduhan ( teratak ).
Tetapi ketika Ia menebang pohon…..Ia terperanjat……sebab pohon yang ia tebang mengeluarkan darah……..seperti darah manusia……

Jeritan dari pohon yang mengeluakan darah manusia itu…….rupanya sampai ketelinga Sibayak Lingga ( Bayak Lingga didalam Istana…….dan Ialah Datu besar yang ada dijagag roh bumi paduka saat itu…..jadi wajar saja kalau ia mampu mendengar suara jarak jauh yang mustahil pada logika kita.
(Suasana di Istana) Sibayak Lingga tersentak……dan siSiti Unai keheranan………, Ada Apa hai Datu Bayak Lingga……., tanya Siti Unai ……..

Sibayak Lingga memejamkan matanya sambil mulutnya komat kamit……dan akhirnya Ia berkata………“ Ada manusia yang membunuh orang bunian yang dulunya disumpah menjadi pohon……dan namanya Tualang……..( Si Bayak Lingga menceritakan riwayat Tualang/plas back ). Mendengar cerita itu……Si Siti Unai meraung menangis sekeras-kerasnya…….dan mendesak Sibayak Lingga agar menunjukkan termpat itu kepadanya…..tiba-tiba Sibayak Lingga berkata lagi…….“ Yang menebang pohon itu sudah mati dikutuk Raja Bunian……”. Sisiti Unai bertanya………Siapa orang yang membunuh adikku itu….Sibayak Lingga menjawab……..namanya si Asahan…
Sisiti Unai meraung dengan terisak-isak …sambil bernyanyi seperti orang disurupi hantu…( inilah awal terjadinya sinandong ela-ela … sebab sitiUnai meratap sambil bersenandung……hoi……Tualang……ela-ela…..e…….e……..
hoi……….Tualang….ela-ela ..e ….adikku malang……..
ela-ela-he………..Asahan…….Asahan Mati…….oi………Asahan Mati……………
Ela-ela………e……kenapa aku dipanggil hoi orang dunio……….
( Dan inilah asal usul nama Desa Asahan Mati dan ditempat itu pulalah pertama kali Syeh Datuk Laut mengayutkan persembahan / mayat si Asahan……mayat si Asahan terapung dipinggir pantai dan disitupulalah mayat si Asahan dijumpai Siti Unai dan Sibayak Lingga…. akhirnya itulah asal usul Sei Apung……..

Ketika Si Bayak Lingga dan Siti Unai mau menyentuh mayat si Asahan………..Muncullah Syech Datuk Laut…………………
Hei…….Manusia …….jangan kau coba…coba menyentuh mayat persembahan itu……..karna ia telah membunuh kekasih cucuku…dan Raja menong anak tertuaku ( ayah dari Putri Raso telah bersumpah……………………………………)
“Setiap orang luar yang lancang diarea tanah paduka ini…………..Ia akan mati dan kusantap diperut lautku…….”.
Sisiti Unai bertanya kepada Sibayak Lingga………Siapa Raja Bunian itu hai Bayak Lingga……………..Bayak Lingga menjawab………….
Dialah Syeh Datuk Laut….Panglima Hitam penjaga roh tanah Paduka……

Biarkan mayat itu mengapung ……..dan kuseru jadi lancang persembahan buat isi laut kita………..( Anehnya mayat itu menungkah arus…..sampailah ia pada satu tempat ( Konon itulah asal Selat Lancang) …setelah itu berputar kelaut lepas……………..dan dari kejauhan terdengar rakyat Raja Bunian menggelar tari Gobuk

Melihat Syech Datuk Laut tidak menampik kata-kata Sibayak Lingga…….akhirnya……Sibayak Lingga menantang Syech Datuk Laut bertarung……“Aku sibayak Lingga menantangmu hei….Syech Datuk Laut………… “

Syech Datuk Laut,” ha….ha…….ha……..ha……….




EPISODE 4
LAGA PENDEKAR

Terlihat Syech Datuk Laut berdiri dengan tangan dilipat didada dengan pakaian serban serba hitam……hembusan angina putting beliung berpusaran tinggi membuat hamparan bumi seolah seperti mau kiamat, namun Syech Datuk Laut tak bergeming sedikitpun kecuali serban dan jubahnya yang kelihatan melambai diterpa angin itu……..

Disisi lain terlihat Batara Sibayak Lingga dengan pakaian kuning serta tengkuluk merah hitamnya memegang keris yang siap dihunjamkan…

Akhirnya pertarungan Sibayak Lingga dan Syech Datuk Laut………...
Menggoncangkan bumi serabi tanah paduka……

Pertarungan antara Raja Bunian si Panglima Hitam Syech Datuk Laut dengan Manusia yang cukup sakti ini mengundang seluruh makhluk dibumi seambi tanah paduka ingin menyaksikan……sebab laga pendekar kali ini …..bukan sekedar laga pendekar biasa………………tetapi akan jadi legenda bagi kita semua…………
Kesepakatan sebai taruhan antara lain……………………………………………
“ Apabila pertarungan ini dimenangkan oleh Sibayak Lingga maka
Syech Datuk Laut harus hengkang/pergi dari wilayah kerajaan ini
namun keturunan Syech Datuk Laut akan menjadi budak Sibayak
samapi hari kiamat……tetapi apabila Syech Datuk Laut yang
menang maka Sibayak Lingga wajib menyerahkan putri tercantik
dikerajaan ini untuk diserahkan kepada Syech Datuk Laut untuk
dikawinkan dengan Putra bungsunya Syech Datuk Laut yaitu
Panglima Nuar dan wilayah kerjaan Sibayak Lingga sebahagian
menjadi milik turunan Syech Datuk Laut…”

Wilayah itu antara lain……………………………………………
1. Tanjung berombang menjadi kekuasaan panglima Nuar
2. Tali Arus selat malaka menjadi kekuasaan Putri kedua
Syech Datuk Laut yaitu Putri Rubiah
3. Pulau Raja/Lubuk emas/brangkas emas kerajaan menjadi
milik Purti ketiga Syech Datuk Laut yaitu Putri Kumala
4. Alur sungai menadi milik Putra tertua Syeh Datuk Laut
yaitu Raja menong / Hantu Sane
5. Dan Turunan Sibayak Lingga akan kualat dan sakit
( Puako ) apabila tidak mematuhi aturan Syech Datuk Laut…..
Aturan itu antara lain…………………………………………...

a. Jamu Laut/Menganyutkan lancang sebagai persembahan..
b. Memelihara ayam togas/sebagai bayar upeti
c. Dihari dan bulan-bulan tertentu Turunan Sibayak Lingga harus
melaksanakan sebahagian budaya sakral yang dianut oleh
Panglima Hitam ( Syech Datuk Laut )
d. Tari wajib komunitas bayan
e. Mengupah-upah
f. Prosesi Kesultanan harus mengacu kepada kebiasaan komunitas bayan
Akhirnya Pertarungan itu dimenangkan oleh Syech Datuk Laut, maka
Sibayak Lingga harus mematuhi kesepakatan tersebut

Dari hasil Perkawinan Panglima Nuar ( Anak Raja Bayan/Bunian)
Dengan Putri tercanti di Kesultanan ( Manusia biasa ) maka lahirlah
Seorang putra berwujud Manusia biasa ….Diberi nama oleh Syech Datuk Laut yaitu Panglimo Bosar ( Dari turunan Panglimo Bosar inilah asal usul orang Asahan Mati ).

Dan seluruh Keturunan Syech Datuk Laut sampai saat ini mengusai daerah-daerah yang sudah disepakati itu………..

Sejak peristiwa itu melegendalah budaya-budaya komunitas bayan/bunian di serambi Tanah paduka kita yaitu Kabupaten Asahan dan Kota Tanjungbalai.



Karya : SYAMSUL RIZAL,AmP.SH (TOK LAUT)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar